⛔ BAHAYA BERPEGANG PADA MAKNA DZAHIR
Di dalam Al Qur'an, surat Al Anfal ayat 22 disebutkan:
ان شر الدواب عند الله الصم البكم الذين لا يعقلون
⛔ Terjemah tekstual:
ان شر الدواب
"Sesungguhnya seburuk-buruk binatang melata"
عند الله
"Disisi Allah"
الصم البكم
"yang tuli dan yang buta"
الذين لا يعقلون
"Mereka yang tidak berakal"
⛔ Maka, terjemahan tekstual: "Sesungguhnya seburuk-buruk binatang melata disisi Allah yang tuli dan bisu yaitu mereka yang tidak berakal"
👉 Ada dua bahaya kesalahan pemahaman yang mungkin saja terjadi pada ayat itu jika dibaca dan dipahami dengan hanya berpegang pada makna dzahir, tanpa berpegang pada ilmu nahwu dan ilmu tafsir yang baik dan benar:
❌ 1. Ada Binatang di Samping Allah
Kesalahan pemahaman ini mungkin saja terjadi karena dalam ayat itu sangat jelas tertulis عند الله yang secara makna dzahir berarti "DISISI ALLAH".
Kalau digabungkan dengan keyakinan makna dzahir lainnya, yaitu keyakinan bahwa "Allah bersemayam (bertempat) di atas Arsy" maka, akan terjadi kesimpulan:
"ADA BINATANG MELATA DI ATAS ARSY DI SAMPING ALLAH".
Maha Suci Allah dari pemahaman seperti itu.
❌ 2. Allah Memiliki Sifat Tuli dan Buta
Kesalahan pemahaman ini juga sangat mungkin terjadi, karena lafadz As Shummu (yang tuli) dan Al Bukmu (yang bisu) tertulis tepat setelah lafadz Allah.
Orang yang tidak memahami ilmu nahwu akan menganggap bahwa dua sifat; الصم (As Shummu) dan البكم (Al Bukmu) adalah sifat bagi Allah. Padahal keduanya bukan sifat bagi lafadz الله (Allahi) karena memiliki i'rob yang tidak sama, sedangkan sifat dan yang disifati harus beri'rob sama.
Maha Suci Allah dari kesalahan pemahaman seperti itu.
✅ Ayat tersebut tidak bisa dipahami hanya dengan berpegang pada makna dzahir ayat, melainkan perlu berpegang pada ilmu nahwu dan ilmu tafsir yang baik dan benar.
✅ Pemahaman yang benar adalah:
"Sesungguhnya seburuk-buruk binatang melata disisi (penilaian) Allah yaitu yang tuli dan bisu yakni mereka yang tidak berakal"
👉 Kelompok yang sering berpegang pada makna dzahir akan sering terjebak pada kesalahpahaman dan gelapnya penafsiran.
👉 Kaum tekstualis merasa ikut pada kehendak Al Qur'an, padahal sebenarnya mereka ikut pada kehendak pikiran mereka sendiri.
Wallahu a'lam...
Sumber FB Ustadz : Saiful Anwar
5 Oktober 2021 ·